Merubah paradigma untuk meraih asa.

September 25, 2011

Banyak kita lihat lulusan Sekolah Menengah, Diploma, Sarjana, Master bahkan Doktoral yang pintar-pintar setelah tamat sekolah jadi “pengacara” alias Pengangguran nggak ada acara. Kalau ditanya kenapa mereka memilih pengangguran, kebanyakan mereka mengatkan susah mencari pekerjaan.. Betulkah pekerjaan susah dicari?? Sebetulnya tidak juga, yang nama nya pekerjaan itu sangat banyak dan tidak akan pernah habis. Hanya saja banyak lulusan yang berstatus pengacara lebih memilih menunggu lowongan PNS atau lowongan dari perusahaan swasta.

Hidup ini bergerak dari pilihan ke pilihan, kita dikasih Tuhan hak untuk memilih, pekerjaan bidang apa yang ingin kita tekuni. Karena dengan menekuni suatu bidang pekerjaan sampai membuat kita menjadi paling ahli di bidang tersebut, akn membuat kita lebih bernilai di mata orang lain. Banyak hal penyebabnya salah satu nya adalah gengsi. Padahal kita lihat banyak lahan-lahan produktif belum difungsikan, banyak SDA yang belum diproses, banyk pekerjaan-pekerjaan yang orang menganggap sebelah mata, tapi disitu ada celah untuk mendapatkan uang yang lebih besar dari gaji seorang PNS atau gaji karyawan swasta, misalnya pengepul barang bekas, sales industri kecil dan menengah, industri kreatif, dll.

Dari kecil orang tua kita sering mengatakan, rajin belajar agar bisa sekolah di sekolah yang bagus atau sekolah negri, misal waktu SD disuruh rajin belajar agar diterima di SMP negri, kemudian di SMP diminta rajin belajar agar diterima di SMA negri, ketika SMA kita dimotivasi untuk belajar lebih giat lagi agar bisa di terima di PTN, waktu di PTN kita diminta serius kuliah agar bisa diterima kerja di tempat yang bagus. Berita buruk nya, jumlah lowongan pekerjaan yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lulusan yang mencari pekerjaan. Gap nya pun sangat besar. Ketika di bangku sekolah sampai kuliah ada parameter untuk menilai keberhasilan kita misal ada Rapor di sekolah dan IP di Perguruan Tinggi.

Kita tidak menyalahkan harapan orang tua, hanya saja kita harus melihat dengan rasional antara harapan dengan realita, paradigma yang salah akan menyebabkan kita menjadi kebingungan, waktu sekolah ada target yang akan kita raih (lulus di Sekolah Negri) dan ada nilai untuk mengukur kemampuan kita (rapor dan IP). Ketika tamat kuliah dengan nilai bagus dan mungkin dari PT bergengsi, tapi dewi fortuna belum memihak kita sehingga belum memperoleh pekerjaan yang menurut kita ideal. Apa yang salah? Kita lihat paradigma kita, setelah tamat sekolahatau kuliah kita ingin mendapat pekerjaan di tempat yang cocok menurut imajinasi kita, realita nya tidak sesuai harapan. Artinya disini kita harus merubah paradigma kita dari “mencari pekerjaan” menjadi “mencari uang”. Bukan kah tujuan kita bekerja untuk mendapatkan uang?? Ketika kita memikirkan bagaimana mendapatkan uang, maka akan banyak jalan yang kita lihat dan terbuka. Tinggal menanggalkan baju gengsi tadi, kemudian agar kita bisa berjalan dalam garis tujuan kita, ideal nya kita harus banyak bermimpi besar, tuliskan mimpi-mimpi besar tersebut kapan kita ingin meraihnya, apa usaha untuk bisa mewujudkannya, berapa besar biaya agar mimpi itu jadi nyata, siapa orang-orang yang bisa membantu kita untuk mempercepat mimpi itu jadi realita, dan ada batas waktu untuk menggapai mimpi itu. Dari sekarang mari kita tulis tujuan hidup kita menurut mimpi-mimpi besar kita, dan mimpi-mimpi besar kita yang kita tulis itu, harus kita baca sebanyak mungkin setiap hari agar tertanam di alam bawah sadar kita, sehingga memacu adrenalin kita untuk lebih kreatif, mulai lah merubah paradigma dengan mencari uang dan menanggalkan gengsi yang menghambat langkah kita untuk berhasil. Kemudian agar kita lebih selektif dan tidak tergoda dengan berbagai rayuan dari luar, mari kontrol diri kita dengan membuat laporan keuangan sehari-hari atau biasa disebut cashflow untuk pengganti rapor kita waktu di sekolah dulu. Insya Allah dalam 5 tahun atau 10 tahun kedepan kita akan kaget dengan pencapai-pencapaian besar kita.

Jangan lupa belajar lah pada ahlinya yang lebih dahulu melakukannya untuk bidang yang kita minati, karena kita ini hanya mengikuti jejak-jejak pendahulu-pendahulu di bidang tersebut.

Warna-warni OHIO Fresh Yoghurt

Mei 26, 2008

Mau tahu warna-warni indah OHIO Fresh Yoghurt???

Ada info gratisnya juga lo..
– Ada Rahasianya Pak Tung Desem Waringin
– Ada kisah sukses bos Jepang
– Ada resep-resep dessert lezat dengan OHIO Fresh Yoghurt…
– Ada sejarah dan jenis yoghurt
– Ada resep dengan yoghurt ala Lebanon
– Dan info menarik lainnya

Kalau mau buka bisnisan Yoghurt juga ada, atau kalau mau order untuk dikonsumsi sendiri juga boleh…

Silahkan lihat di Tag : Paket Order

Detailnya…
Klik aja link di bawah ini
http://ohiofreshyoghurt.multiply.com
atau
http://ohiofreshyoghurt.wordpress.com

OHIO Fresh Yoghurt, Yoghurt yang memahami anda……Mauuuu

Indahnya Matematika

April 21, 2008

Beauty of Math’s!
1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888
Brilliant, isn’t it?
And finally, take a look at this symmetry:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111=12345678987654321

Salam
Reza
http://ohiofreshyoghurt.multiply.com

Blog tentang yoghurt

April 2, 2008

http://ohiofreshyoghurt.multiply.com

Ada apa saja di blog tersebut??

Ssstt….Langsung aja lihat gih…

Keluar dari tekanan

Februari 17, 2008

Assalamu’alaikum wr.wb.

Jum’at malam 15 Februari 2008 adalah malam yang membuat saya paling stres dalam hidup ini. Karena gara-gara kejahilan saya, 2 orang besar harus saya temukan jam 19.30 wib. Yang pertama Preskom Corporat milik orang terkaya Indonesia Bakrie & Brothers yaitu Pak Irwan Sjarkawi yang kedua adalah jendral milis TDA Pak Badroni Yuzirman.

Berhubung dari tempat saya kerja di Cibitung ke tempat pertemuan di Kebun Kacang XXIX No. 2A lumayan jauh, ditambah lagi dengan naik angkutan umum dan keluar dari kantor baru jam 17.30 wib ditengah hujan lebat, jadi saya hanya punya waktu perjalanan 1.5 jam saja. Kondisi tol lumayan padat dan macet. Sampai Jatibening lancar saya turun dari bus jemputan kantor langsung nyambung naik bus yang ke Kota, rencana mau turun di Sudirman dan naik taksi ke lokasi. Sampai gerbang tol dalam kota masih lancar dan Alhamdulillah hujan sudah reda, setelah masuk tol dalam kota baru terasa beban pikiran takut telat sampai tempat pertemuan. Malu sekali kalau yang diminta mengkordinir pertemuan datang lebih telat dari yang akan bertemu. Saya SMS Jendral TDA untuk kordinasi, Alhamdulillah beliau maklum, saya SMS Pak Irwan Sjarkawi Preskom Bakrie jawabannya “Reza, usahakanlah tepat waktu. Kalau ndak jangan bikin janji. Maaf kalau ambo (bahasa Minang dari saya) kurang dapat menerima sikap tidak disiplin”. Teeeng……jawaban yang merupakan sentilan yang membuat saya jadi “happy problem” kata pak Roni. Mendapat SMS yang membuat saya sampai keringat dingin tersebut, akhirnya saya telpon salah satu rekan saya di kepanitiaan SSM 2007 yang juga CEO suatu perusahaan. Saya minta tolong beliau untuk datang ke sekretariat FSSM sebelum jam 19.00 wibb dan saya juga berikan no. HP Pak Roni ke beliau untuk antisipasi kondisi yang diluar kemampuan saya (macet) dengan konsekuensi malu seumur hidup dan hilangnya trust dari Pak Irwan Sjarkawi dan Pak Roni yang baru saya bangun. Saya minta tolong beliau karena disamping rumahnya dekat dari tempat pertemuan juga karena beliau sudah kenal dengan Pak Irwan Sjarkawi.

LOA saya dari keluar kantor minta jalan lancar tidak ampuh. Ketika bus sampai daerah pancoran ada telpon ke HP saya dari sekretaris FSSM tempat pertemuan, mengatakan Pak Irwan Sjarkawi sudah di Karet, saya makin tambah tertekan. Sampai Aldiron jalan bus di tol dalam kota masih merayap dan tersendat..padahal jam sudah menunjukkan pukul 18.55 wibb. Akhirnya setelah lewat pancoran dengan nekat saya minta turun dari bus di tol yang macet dan lari ke gerbang tol di depan “Aldiron”, lalu menyebrang ke pinggir jalur biasa sambil menunggu taksi, duuhhh…..cobaan lagi menunggu dapat taksi cukup lama sampai 5 menit lebih..artinya saya harus bisa sampai Kebun Kacang XXIX 30 menit lagi dengan melewati Sarinah terlebih dahulu untuk menjemput istri saya yang sudah menunggu di halte seberang jalan depan Sarinah. Alhamdulillah…saya dapat Taksi..dan saya minta tolong ke Sopirnya untuk lebih cepat, karena taksinya sudah berumur jadi kurang nyaman untuk dipacu kencang. Bagaimana pun juga stres dan tekanan dari ketakutan baru bisa hilang setelah sampai lokasi sebelum waktu yang dijadwalkan. Alhamdulillah jalur biasa sampai Sarinah lancar-lancar walau naik Taksi yang sudah berumur. Setelah Istri saya naik ke Taksi yang saya tumpangi kami langsung ke Sekretariat Forum Silaturahmi Saudagar Minang.

Alhamdulillah kami bisa sampai ke tempat pertemuan 2 Jendral besar 15 menit sebelum jadwal 19.30 wib. Disana saya temui teman saya lagi makan malam, beliau ketawa melihat kami datang ketakutan dengan wajah agak cemas. Ternyata Pak Irwan Sjarkawi sudah duluan sampai dan sedang shalat magrib, tapi Jendral TDA belum sampai, saya ambil wudhu untuk shalat Magrib, keluar dari tempat wudhu Pak Irwan sudah duduk di kursi dan sedang ngobrol sama istri dan teman saya, saya minta maaf ke beliau karena telah membuat beliau sedikit kecewa tadi dengan SMS jalan macet dari saya. Kemudian saya telpon Pak Roni, ternyata beliau lagi nyasar. Karena takut tidak ontime soalnya waktu menunjukkan 10 menit lagi menuju jam 19.30 wib dan menanyakan dimana posisi beliau, kemudian saya minta tolong teman saya untuk membantu memberi petunjuk jalan. Setelah itu saya Shalat Magrib dengan penuh rasa syukur dan takjub dengan kegilaan yang saya lakukan tadi. Selesai shalat saya tunggu Pak Roni di pertigaan jl. Kebun Kacang XXIX. Alhamdulillah Pak Roni sampai 2 menit sebelum jadwal yang disepakati.

Perbincangan Pak Roni dengan Pak Irwan sangat akrab sekali sampai jam 21.00 wibb. Jam 21.00 wibb pertemuan bubar, Pak Irwan dan teman saya pulang ke rumahnya sementara saya, istri saya dan Pak Roni jalan sambil ngobrol ke depan Plaza Indonesia untuk mencari taksi. Karena kelamaan menunggu kami bubar di depan Plaza Indonesia. Demikian kejahilan paling gila yang saya lakukan yang membuat saya merasa mendapat tekanan sangat berat dan Alhamdulillah bisa melepaskannya tanpa menanggung malu seumur hidup saya. 

Intisari dari pertemuan malam itu adalah :

1. Masyarakat Indonesia punya budaya yang harus dihilangkan yaitu : suka mencari kambing hitam atau melempar kesalahan pada orang lain, kemudian belum bisa dikritik yang membangun dan belum bisa komitmen. Contoh yang paling nyata..apa pun masalah yang terjadi di negara ini, ujung-ujungnya kesalahan selalu dilempar pada pemerintah. Padahal dari setiap masalah di negara ini ada peluang/potensi bisnis yang bisa dioptimalkan. Misal jalan macet, artinya ada peluang bisnis untuk mengatasi kemacetan yang sangat merugikan negara dan kalangan pengusaha…yoook mari kita cari solusi bersama dan buat proposal untuk diajukan ke Pemda yang berisi opsi-opsi yang bisa membantu pemerintah mengatasi kemacetan itu.

2. Apa pun masalah dan kekurangan yang ada dibalik itu ada potensi bisnis yang menjanjikan

3. Tren usaha produk dan jasa kedepannya adalah produk dan jasa yang mendekati konsumen, dan berfilosophy Menang membeli menang memakai

coretannya pak Hengki (PT. Rekayasa Industri)

Oktober 9, 2007

Triharyo Susilo (Hengki): direktur utama PT. Rekayasa Industri ):

Kegalauan saya terhadap Insinyur Mesin Indonesia

Rekans

Sekali-kali saya ingin buat e-mail yang rada serius.

Terutama melihat kondisi negara saat ini dengan uang yang sangat banyak
tapi penciptaan pekerjaan masih relatif sangat sedikit.

Dalam berbagai pertemuan saya selalu bilang bahwa penyebab kejadian ini
adalah karena insinyur Indonesia masih “belum” bekerja keras.

E-mail ini bukan bermaksud untuk mengkritik namun lebih sebagai sebuah
introspeksi & “lessons learned” agar Indonesia dimasa mendatang akan
lebih maju lagi.

Saya setuju dengan hipotesa bahwa kemajuan negara adalah karena peran
dan kemajuan perusahaan-perusaha an di negara tersebut (bukan
pemerintahannya) .

Sedangkan kemajuan perusahaan disebabkan karena inovasi teknologi para
insinyur-insinyurny a dalam meng-“create value” di dalam perusahaan
tersebut.

Artinya semakin inovatif dan berkarya para insinyur didalam suatu
korporasi, maka akan majulah bangsa dan negara tersebut.

Jadi disini, kata kuncinya adalah “insinyur” dan “korporasi” dalam
memajukan bangsa.

Berikut beberapa fakta yang membuat saya galau :

Pembangunan pabrik-pabrik industri max 50% local content

Setiap kali saya membangun pabrik-pabrik industri di Indonesia,
peralatan dan material yang bisa dibeli di dalam negeri (kandungan
lokal) paling-paling hanya mencapai maximum 50% dari nilai kontrak.
Peralatan yang masih terus menerus diimport sejak saya jadi insinyur
(tahun 1981) sampai sekarang (2007) adalah alat-alat mesin
bergerak/berputar (rotating) yaitu compressor, pompa, turbine,
generator, fans, blower, dll. Tidak ada kemajuan sedikitpun selama 26
tahun, dan tidak ada satupun produsen peralatan-peralatan tersebut di
Indonesia yang tumbuh minimal untuk mendominasi market di dalam negeri.
Informasi belanja migas per tahun dari Dirjen Migas disebutkan mencapai
US $ 9 milyard.

Hampir US $ 7.5 milyard merupakan import peralatan dan permesinan.

Sayang sekali uang kita dihambur-hamburkan ke luar negeri.

Dimanakah peran para Insinyur2 Mesin Indonesia & korporasi2 di bidang
ini ?

PLTU skala kecil & menengah diberi kesempatan maksimal oleh Pemerintah &
PLN.

Atas dorongan Deprind, Wapres dan semua pihak, akhirnya PLN setuju untuk
PLTU 7 MW harus 70% kandungan lokalnya, PLTU 25 MW harus 50 % kandungan
lokalnya, dan untuk PLTU 50 MW harus 30 % kandungan lokalnya. PLN sudah
memasukan persyaratan2 tersebut dalam dokumen tendernya. Wapres, Menteri
perindustrian dan Meneg BUMN sudah membuat surat dan mendukung secara
resmi. Juga bank-bank nasional siap mendanai proyek-proyek tersebut
karena kelebihan likuiditas.

Namun saat ini fabrikator Boiler, Turbine dan Generator relatif masih
kewalahan dan hampir menyatakan tidak sanggup. Turbine manufacturer
hanya 1 di Indonesia yaitu NTP dan sanggupnya maximum 7 MW. Untuk
membuat generator hanya Pindad yang sanggup, itupun maximum 15 MW.
Sedangkan untuk Boiler ada sekitar 4 perusahaan utama dan hanya
sanggupnya tipe stocker dengan maximum 15 MW. Padahal PLTU yang akan
dibangun ada 34 PLTU dengan nilai sekitar US $ 3 milyard. Sehingga
akibatnya sudah dapat ditebak yaitu sebagian besar permesinan akan
diimport dari China.

Padahal tahun 1981, Insinyur China masih bertani dan bercocok tanam &
insinyur Indonesia berani bikin pesawat terbang. Kenapa bisa terjadi
seperti ini ?.

Kecelakaan kereta api – permasalahannya di pembuatan Bogey ITB-77
melalui Yayasan Bhakti Ganesha (YBG) sudah membuat studi tentang
kecelakaan kereta api.

Penyebab terbesar kecelakaan Kereta api di Indonesia hanya disebabkan
karena 2 pareto besar yaitu kereta anjlok dan kereta tabrakan di
persimpangan. Setelah diteliti lebih jauh oleh media massa dan para
teknisi, penyebab anjloknya kereta api bukanlah karena rel keretanya
anjlok tapi karena bogey (tempat dudukan gerbong kereta) banyak yang aus
dan rusak. Solusi sederhana saat ini adalah dengan mengurangi kecepatan
Kereta api 20% supaya bogey tidak anjlok. Pemerintah sudah siap
menurunkan dana untuk meningkatkan keselamatan kereta api, namun tidak
ada satupun industri di Indonesia yang bisa membuat bogey dengan baik
dan cepat. Mungkin akhirnya import lagi.

Kecelakaan pesawat terbang. Rasanya para insinyur mesin Indonesia tidak
boleh tinggal diam dengan adanya kecelakaan-kecelaka an pesawat terbang.

Dimanakah peran insinyur mesin Indonesia dalam menerapkan sistem-sistem
quality control yang selalu dibangga-banggakan di perusahaan-perusaha an
minyak.

Kenapa kalau korporasi-korporasi nya milik asing (PSC), insinyur-insinyur
Indonesia persis seperti “inlander” dan jadi anak-anak penurut.

Tapi kalau pemiliknya orang Indonesia atau perusahaan-perusaha an
tersebut perusahaan Indonesia, sepertinya para insinyur indonesia
(khususnya insinyur mesin) kehilangan arah.

Kenapa ya bukan insinyur-insinyur mesin yang menapak jenjang level top
management di perusahaan-perusaha an maskapai penerbangan.

Kenapa orang keuangan, pilot dan angkatan udaya yang menduduki pimpinan
perusahaan-perusaha an penerbangan di Indonesia ?

Saya bisa buat list ini terus semakin panjang dengan daftar import
peralatan-peralatan mesin seperti sepeda, sepeda motor, mobil, dll.

Fakta-fakta korporasinya. Jika kita melihat industri kimia dan
perminyakan di Indonesia, terlihat bahwa pimpinan-pimpinan perusahaannya
(direksi dan level menengah) dipegang umumnya oleh para
insinyur-insinyur di bidangnya lihat industri pupuk, industri semen,
industri kimia, pertamina, pgn, medco, production sharing companies dll.
Juga industri perlistrikan (baik PLN maupun manufaktur peralatan
listrik) umumnya dipimpinan pada level menengah/atas ditentukan
kebijakan-kebijakan nya oleh para insinyur-insinyur elektro.

Juga industri konstruksi bangunan, jalan, pelabuhan dll, umumnya
dipimpin oleh para insinyur sipil. Hal serupa juga ditemukan di
Industri Telekomunikasi, IT, perbankan dan elektronika. Para spesialis
dan teknisi bisa menapak jenjang management & pimpinan perusahaan dan
tentunya bisa menerapkan kebijakan dan obsesinya sebagai insinyur.

Tapi coba lihat pimpinan level menengah dan tertinggi di
industri-industri permesinan, industri motor, industri mobil, industri
pompa, industri compressor dll. Sebagian besar berasal dari non-engineer
yang umumnya mementingkan keuntungan dari bekerja sebagai “trader” atau
pengambil komisi dari mengimport barang jadi.

Pimpinan-pimpinan perusahaan permesinan umumnya datang dari para pemilik
perusahaan yang menaruh modal awal atau ditaruh oleh mitra asingnya
sebagai perwakilan di Indonesia.

Pimpinan-pimpinan seperti ini tidak akan mempunyai inovasi dan
keberanian untuk mengambil resiko memproduksi di dalam negeri secara
mandiri. Karena kebijakan ini akan bertentangan dengan fungsi mereka
yang ditempatkan pada awalnya yaitu menjadi penjual saja. Ini kegalauan
saya dan tidak bermaksud untuk mengkritik insinyur mesin. Namun hanya
sebagai sebuah introspeksi dari kaca mata yang mungkin salah. Silahkan
e-mail ini diforward ke milis-milis lain dan saya ingin mengajak
rekan-rekan insinyur mesin untuk diskusi tentang ini. Rasanya sudah
saatnya kita menyiapkan insinyur-insinyur mesin Indonesia yang
muda-muda dengan penyiapan korporasi-korporasi terkait dengan
target-target dalam jangka kurun-kurun waktu yang tertentu. Sebagai
contoh, dalam berapa tahun Indonesia bisa membuat pompa air sendiri dan
siapa korporasi pembinanya (tahukah anda bahwa pompa air saja kita masih
import). Dalam berapa tahun Indonesia akan membuat compressor udara
sendiri dan dan siapa korporasi pembinanya dll. Ini kegalauan saya.
Mohon maaf bila ada yang kurang berkenan.

Let’s discuss for Indonesia’s future

Salam

Hengki

Pengusaha, Insinyur dan merek lokal

Oktober 9, 2007

Tren pengusaha Indonesia saat ini (mengutip kata Pak Frengky W. dari Bogasari) 90% adalah pengusaha Jasa dan Pedagang, masih sedikit pengusaha Indonesia membuat produk atau barang. Juga mengutip ulasan Pak Henky, Dirut PT. Rekayasa Industri, yang mengatakan bahwa kemajuan negara adalah karena peran dan kemajuan perusahaan-perusahaan di negara tersebut (bukan pemerintahannya). Sedangkan kemajuan perusahaan disebabkan karena inovasi teknologi para insinyur-insinyurnya dalam meng-“create value” di dalam perusahaan tersebut. Artinya semakin inovatif dan berkarya para insinyur didalam suatu korporasi, maka akan majulah bangsa dan negara tersebut. Jadi disini, kata kuncinya adalah “insinyur” dan “korporasi” dalam memajukan bangsa.

Bagaimana Indonesia cepat maju jika produk dan barang yang beredar di pasaran adalah produk dan barang impor dari negara lain terutama dari China dan Jepang. Bagaimana Perusahaan Lokal di Indonesia bisa cepat maju dan bisa bersaing dengan Perusahaan Multi Nasional jika pengusaha lokal nya hanya jadi pembeli lisensi atau penjual produk atau barang yang diimpor dari negara lain, bukan pengusaha yang mempunyai inovasi dan keberanian untuk mengambil resiko dengan inovasi memproduksi di dalam negeri secara mandiri, terutama untuk permesinan.

Kalau kita buat list dari kebutuhan rumah tangga sampai kebutuhan di Industri kita bisa lihat sendiri paling banyak (menurut saya 80 ~ 90%) adalah barang impor dan barang brand dari negara lain….misal : Pompa Air, Refrigerator, AC, Blender, Lampu, sepeda motor, mobil, kompresor, dll.

Indonesia punya banyak SDM potensial, dari level Sarjana sampai Professor, tapi terkesan kurang inovatif dan kurang kreatifitas alias mandul, Indonesia punya banyak pengusaha, tapi kurang berani investasi untuk mengangkat dan memproduksi produk olahan industri lokal, memang banyak temuan baru dibidang rekayasa dan scinece hasil riset anak bangsa Indonesia, tapi yang punya paten adalah negara lain. Kita punya banyak professor dan tenaga ahli untuk riset, tapi terbentur kembali pada masalah dana, akhirnya mereka riset dengan dibiayai negara lain yang hasil risetnya harus dipatenkan negara sponsor, padahal yang mereka risetkan materialnya juga banyak hasil rekayasa dan riset yang bermutu tinggi di Universitas, tapi belum banyak yang disinergikan pengusaha lokal untuk dijadikan produk olahan industri. Kita punya banyak lahan yang subur, tapi dibiarkan tidak ditanami, yang ada hutan ditebangi baik legal maupun ilegal untuk industri kertas dan perkebunan sawit.

Menurut saya alangkah baiknya jika :
1. Semua Pengusaha lokal mulai membudayakan bersinergi dengan Universitas untuk membiayai riset para tenaga ahli di Universitas di Indonesia melalui kerjasama yang saling menguntungkan, lalu hasil risetnya dipatenkan sebagai karya anak bangsa Indonesia, dan sama pengusaha lokal diproduksi masal sebagai produk olahan industri Indonesia.
2. Dibuat suatu mall one stop shopping seperti Lindeteves Trade Centre di tiap Provinsi (sebagai tempat promosi, distribusi dan pembangun brand image produk lokal, seperti mesin, perkakas n fastener, home aplliance, electrical dan mechanical, textil, dll), tapi syarat utamanya barang yang dijual di mall tersebut HARUS 100% buatan Industri lokal dari pengusaha lokal, bukan pengusaha PMA atau Join Venture. Bisa jadi tiap lantai spesifik sesuai jenis produk.
3. Kita bangga di Indonesia ada kawan lama dan ACE hardware, sayang barang yang dijual di Kawan Lama masih 80~90% diimport dari berbagai negara, sangat bermanfaat sekali jika ada pengusaha atau badan usaha Nasional mulai merintis untuk mengumpulkan semua jenis produk produksi industri-industri lokal, lalu dibuat direktori atau katalog besar seperti katalog keluaran Industri Jepang MISUMI, ESCO, TRUSCO, dll. Katalog dari Jepang sangat menarik, komunikatif, mudah dipahami dan mudah cara berbelanjanya. Mungkin namanya The Indoneisa Local Product General Catalog of Professional Tools for Factory, Office, and Home Use
4. Sarjana-sarjana lulusan Universitas, terutama dari bidang Teknik dibina dan difasilitasi oleh pemerintah untuk membuat usaha kecil/industri rumah tangga yang disponsori pengusaha lokal, untuk melakukan inovasi dan membudayakan kreatifitas melalui ATMM (amati, Tiru, Modifikasi dan Minimalisasi), dengan membuat komponen-komponen/suku cadang untuk produk-produk dari pengusaha yang mensponsori. Seperti Toyota dengan suplier-supliernya, kemana Toyota investasi, vendor-vendornya juga akan ikut mengekor. Keiritsu ala Indonesia.

So majulah pengusaha Indonesia, majulah insinyur Indonesia, berinovasi dan kreatiflah untuk membuat produk yang bisa berkompetisi dengan produk asing.